Gemuk tapi Sehat, Mungkinkah?


Penemuan baru menunjukkan bahwa Anda tidak bisa menilai kesehatan orang hanya dari penampilannya saja. Misalnya, bahwa orang kurus pasti sehat, dan orang gemuk pasti tidak sehat. Ada fakta baru yang menunjukkan bahwa orang yang bertubuh gemuk pun sebenarnya bisa lebih sehat.


Sebuah studi dari National Cancer Institute pada tahun 2012 bahkan menemukan bahwa orang obesitas sebenarnya mempunyai harapan hidup sekitar 3,1 tahun lebih lama dibandingkan wanita dan laki-laki dengan berat badan normal.

 

Studi lain yang dimuat di European Heart Journal menunjukkan bahwa jika orang obesitas mempunyai metabolisme yang sehat (dalam arti memiliki tekanan darah, kolesterol, gula darah, dan indikator lain dalam kisaran yang sehat) mereka tidak memiliki risiko meninggal akibat penyakit jantung atau kanker lebih besar dibandingkan mereka yang berat badannya normal.

 

"Tubuh yang terbiasa berolahraga secara teratur umumnya tubuh yang sehat, walaupun tubuh itu gemuk atau kurus," kata Glenn Gaesser, PhD, profesor bidang olahraga dan kesehatan di Arizona State University dan penulis  Big Fat Lies: The Truth About Your Weight and Your Health .

 

Karena otot adalah konsumen terbesar gula dalam tubuh, meningkatkan massa otot dapat mengurangi kemungkinan akumulasi endapan gula dalam darah yang memicu diabetes. Aktivitas fisik secara teratur dapat mengurangi peradangan pada sistem kardiovaskular, dan memengaruhi sekresi hormon pembekuan darah, sehingga memungkinkan darah mengalir lebih lancar ke otot dan mencegah timbulnya gumpalan yang mematikan.

 

Olahraga ringan seperti berjalan yang dikombinasikan dengan diet juga bisa mengurangi jumlah lemak yang dapat merusak hati. Jadi, kalau Anda rajin olahraga, metabolisme Anda bisa tetap sehat meskipun berat badan Anda mungkin tidak turun.

 

Meskipun begitu, Anda tidak bisa bilang bahwa Anda bisa menambah berat badan tanpa merasa khawatir. Bobot yang bertambah bisa menekan sendi, dan membuat sulit bergerak. Selain itu, semakin berat tubuh Anda, kesehatan metabolisme juga semakin berkurang.

 

Berat badan tak akan turun sesuai keinginan. Masalahnya, banyak faktor luar yang memengaruhi keberhasilan kita menurunkan berat badan. Meskipun telah membakar banyak kalori saat berolahraga, banyak dari kita yang gagal untuk menurunkan berat badan, dan mungkin malah naik. Ini bisa jadi disebabkan karena kita ingin menghadiahi upaya kita berolahraga dengan makanan, atau kita malah menghabiskan lebih banyak waktu bermalas-malasan saat tidak nge-gym.

 

Metabolisme yang melambat kemungkin merupakan perlindungan tubuh untuk menghemat energi ketika dirasa makin banyak kalori yang dibakar melalui olahraga, demikian menurut Diana Thomas, PhD, penulis studi dari Center for Quantitative Obesity Research di Montclair State University di New Jersey. Tubuh yang bugar akan bekerja lebih efisien, karena jantung tidak harus memompa lebih cepat, bernafas pun jadi kurang cepat. Selain itu, tubuh juga akan mengurangi jumlah kalori yang dibakar sepanjang hari.

 

Namun, membuat berat badan turun dalam jangka panjang memang kadang sulit dicapai, karena tubuh setiap orang umumnya akan menahan sekitar 4,5 - 9 kg berat badan meski sudah berupaya semaksimal mungkin. Artinya, beberapa orang mungkin secara biologis tidak dapat menurunkan berat badan sebanyak yang diinginkan, apalagi jika ditambah dengan nafsu makan yang sulit dikendalikan, begitu menurut  Linda Bacon, PhD, penulis Health at Every Size: The Surprising Truth About Your Weight .

 

Meski begitu, Anda tak perlu putus asa. "Menambah aktivitas fisik secara teratur dapat mengurangi proporsi lemak menjadi otot, dan memengaruhi ke mana lemak akan didistribusikan," ujar Thomas. Bahkan, berjalan kaki 20 menit sehari saja dapat mengurangi jumlah lemak terdalam yang tersimpan di dasar perut. Lemak inilah yang berbahaya, karena bisa memicu penyakit jantung, diabetes, dan tingkat kematian yang tinggi. Maka siapa yang ingin happy  dengan kondisi tubuhnya, lakukan olahraga teratur.