Halo, Ibu Sania! Lagi bingung ya kenapa beras premium yang dibeli kok teksturnya beda-beda padahal sama-sama tertulis "premium" di kemasan? Wajar kok kalau Ibu penasaran, apalagi belakangan cukup ramai kabar soal beras oplosan yang mutunya ternyata tidak sesuai label.

Jadi begini, Ibu Sania, derajat sosoh minimal yang disyaratkan untuk beras kategori premium adalah 95 persen, sesuai Standar Nasional Indonesia atau SNI 6128:2020 yang juga dipertegas lewat Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 2 Tahun 2023. Angka ini bukan sekadar formalitas, tapi jadi salah satu tolok ukur utama yang membedakan beras premium dari beras medium di pasaran. Yuk, kita bahas lebih dalam supaya Ibu makin paham dan tidak salah pilih lagi saat belanja beras.

Derajat Sosoh Minimal Beras Premium Menurut SNI 6128:2020

Derajat sosoh minimal beras premium ditetapkan sebesar 95 persen dalam SNI 6128:2020. Standar ini berlaku untuk beras giling yang beredar secara resmi di Indonesia, baik yang dijual di ritel modern maupun pasar tradisional. Angka 95 persen ini artinya, dari total lapisan perikarp, testa, aleuron, dan lembaga yang menempel pada butir beras pecah kulit, minimal 95 persennya harus sudah terlepas lewat proses penyosohan.

Menariknya, Ibu Sania, angka minimal derajat sosoh untuk beras premium dan beras medium mutu I ternyata sama-sama 95 persen. Jadi apa yang bikin beras premium lebih mahal dan dianggap lebih berkualitas? Jawabannya ada di parameter lain, seperti kadar butir patah dan kandungan beras kepala, yang akan kita bahas di bagian berikutnya.

Perlu diketahui juga, beberapa sumber lama masih menyebutkan derajat sosoh beras premium harus mencapai 100 persen. Informasi itu sudah tidak relevan lagi karena mengacu pada standar sebelum SNI 6128:2020 diberlakukan. Jadi kalau Ibu menemukan referensi dengan angka 100 persen, sebaiknya dicek ulang tanggal publikasinya ya.

Apa Itu Derajat Sosoh dan Kenapa Penting Bagi Mutu Beras

Derajat sosoh, atau dalam istilah teknis disebut degree of milling, adalah persentase terlepasnya lapisan kulit ari dari butir beras selama proses penyosohan berlangsung. Semakin tinggi derajat sosohnya, semakin banyak lapisan bekatul dan aleuron yang terbuang, sehingga warna beras terlihat lebih putih bersih dan mengkilap.

Alasan kenapa derajat sosoh ini dipersyaratkan cukup sederhana, Ibu. Konsumen Indonesia umumnya menyukai beras berwarna putih terang karena dianggap lebih bersih dan menghasilkan nasi yang pulen saat dimasak. Penelitian dari IPB University tahun 2024 bahkan menunjukkan bahwa peningkatan derajat sosoh berbanding lurus dengan nilai kecerahan atau whiteness beras, meski di sisi lain proses penyosohan yang terlalu lama juga bisa menyebabkan banyak butir beras yang patah.

Perbedaan Syarat Mutu Beras Premium dan Beras Medium

Selain derajat sosoh, ada beberapa parameter lain yang membedakan beras premium dan medium menurut SNI 6128:2020 serta ketentuan Badan Pangan Nasional. Supaya lebih mudah dipahami, berikut ringkasannya.

Parameter Mutu

Beras Premium

Beras Medium

Derajat sosoh

Minimal 95%

Minimal 95%

Kadar air

Maksimal 14%

Maksimal 14%

Beras kepala

Minimal 85%

Minimal 75%

Butir patah

Maksimal 15%

Maksimal 25%

Butir menir

Maksimal 0,5%

Boleh lebih tinggi

Nah, dari tabel di atas terlihat jelas, Ibu Sania, kalau perbedaan paling mencolok antara beras premium dan medium justru terletak pada kandungan butir patah dan beras kepala, bukan derajat sosohnya. Beras premium harus punya butir kepala minimal 85 persen, artinya butiran beras yang utuh atau nyaris utuh jumlahnya jauh lebih banyak dibanding beras medium yang hanya disyaratkan 75 persen.

Kadar air maksimal 14 persen juga sama pentingnya, lho. Kandungan air yang terlalu tinggi bisa membuat beras cepat berjamur dan tidak tahan lama disimpan, apalagi kalau Ibu biasa membeli beras dalam jumlah besar untuk stok bulanan.

Cara Mengenali Beras Premium Asli di Pasaran

Setelah tahu standarnya, sekarang giliran praktiknya, Ibu. Bagaimana cara membedakan beras premium asli dengan yang mungkin saja dioplos? Badan Pangan Nasional sempat memberikan beberapa tips sederhana yang bisa Ibu praktikkan sendiri di rumah tanpa perlu alat khusus.

  • Perhatikan tampilan fisik beras. Beras premium seharusnya terlihat lebih utuh, mengkilap, dan minim butiran yang hancur atau patah.

  • Cek jumlah butir patahnya secara visual. Kalau Ibu menemukan banyak sekali beras remuk dalam kemasan, kemungkinan besar itu bukan beras premium asli, karena secara standar butir patahnya maksimal hanya 15 persen.

  • Perhatikan warna beras. Beras dengan derajat sosoh tinggi cenderung berwarna putih bersih dan tidak kusam.

  • Bandingkan harga dengan kualitas. Harga beras premium yang terlalu murah dibanding rata-rata pasaran patut dicurigai.

Selain cara manual di atas, sebenarnya ada alat bernama Rice Milling Degree Meter yang digunakan produsen dan lembaga penguji untuk mengukur derajat sosoh secara presisi, dengan skala 0 hingga 199 yang kemudian dikonversi ke persentase sesuai standar SNI. Tapi tentu saja, Ibu tidak perlu punya alat ini di rumah, cukup mengandalkan pengamatan visual sederhana tadi sudah cukup membantu.

Kenapa Masih Banyak Beras Premium yang Tidak Sesuai Standar

Ibu Sania mungkin pernah dengar berita soal temuan beras premium yang ternyata tidak memenuhi standar mutu setelah diuji laboratorium. Kasus ini memang cukup sering terjadi di berbagai daerah. Badan Pangan Nasional menyebutkan setidaknya ada 14 parameter yang diuji untuk menentukan apakah sebuah beras layak disebut premium, mulai dari derajat sosoh, kadar air, butir patah, hingga kandungan benda asing dan butir gabah yang tercampur.

Sayangnya, tidak semua produsen konsisten menjaga mutu produknya sesuai label kemasan. Beberapa kasus oplosan yang terungkap justru menunjukkan beras yang dijual dengan label premium ternyata memiliki derajat sosoh dan proporsi beras kepala di bawah standar yang seharusnya. Karena itu, pengawasan mutu di lapangan terus dilakukan oleh dinas terkait di berbagai provinsi untuk melindungi konsumen seperti Ibu Sania dari praktik yang merugikan ini.

Tips Praktis Sebelum Ibu Sania Membeli Beras Premium

Supaya Ibu tidak salah pilih lagi, ada baiknya selalu memastikan kemasan beras mencantumkan label SNI yang jelas beserta nomor izin edarnya. Jangan ragu juga untuk membandingkan beberapa merek sebelum memutuskan mana yang paling sesuai dengan kebutuhan dapur di rumah, baik dari segi tekstur nasi yang dihasilkan maupun daya tahan penyimpanannya. Kalau Ibu masih ragu dengan kualitas beras yang biasa dibeli, coba deh sesekali bandingkan langsung dua kemasan berbeda dan perhatikan mana yang butirannya lebih utuh serta warnanya lebih merata.